Beranda Daerah Hari ke-7 yang Penuh Doa, Kang Emay di Mata Mereka: Sosok Hangat...

Hari ke-7 yang Penuh Doa, Kang Emay di Mata Mereka: Sosok Hangat yang Tak Mudah Dilupakan

KARAWANG, NarasiKita.ID – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Masjid Babussalam, Rengasdengklok, saat ratusan jamaah menghadiri tahlilan hari ke-7 almarhum Kang Emay Ahmad Maehi, yang wafat di usia 56 tahun pada 22 Maret 2026 atau bertepatan dengan 2 Syawal 1447 Hijriah.

Doa dan lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, mengiringi harapan agar segala amal ibadah almarhum diterima Allah SWT serta mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Tahlilan ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan untuk mengenang sosok yang dikenal luas sebagai pribadi hangat dan pemersatu.

Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Ihsanudin (Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan), Ace Sudiar (Dewan Pengawas PDAM) Karawang, Agus Rivai (Dewan Pengawas Petrogas) Karawang, serta mantan Wakil Bupati Karawang periode 2016–2021, Ahmad Zamakhsyari yang akrab disapa Kang Jimmy. Hadir pula para pimpinan pondok pesantren, tokoh masyarakat, perwakilan keluarga besar Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), PMII, Keluarga Karawang Yogyakarta (KKY), BPK Ormas Oi Karawang, pengurus KADIN Kabupaten Karawang, serta masyarakat setempat.

Berita Lainnya  Dorong Kepatuhan Pajak, Bapenda Karawang Sosialisasikan Regulasi Pajak Terbaru

Dalam tausyiahnya, Kiyai Haji Ahmad Ruhyat Hasby atau yang akrab disapa Kang Uyan menyampaikan kesaksian mendalam tentang kehidupan almarhum. Ia menuturkan, sejak ditinggal sang ayah, sosok Kang Emay menjadi tulang punggung keluarga yang dengan penuh tanggung jawab terhadap adik-adiknya.

“Ini adalah amal saleh yang istimewa. Tidak semua orang mampu memikul beban sebagai kepala keluarga di usia muda, tapi beliau menjalaninya dengan penuh keikhlasan,” ungkap Kang Uyan.

Lebih dari itu, almarhum dikenal sebagai pribadi yang mampu menjalin hubungan dengan berbagai kalangan tanpa sekat. Dari lingkungan religius hingga masyarakat umum dengan latar belakang beragam, semuanya merasa dekat dengan sosoknya.

Berita Lainnya  Bangga! IRT Asal Desa Mulyajaya Karawang Lolos Ajang Dangdut Mania Dadakan MNCTV

“Beliau itu sosok yang luar biasa dalam pergaulan. Dari sajadah sampai ke haramjadah, semua kenal dan dekat dengan beliau. Dengan kiai akrab, dengan preman akrab, dengan pastur, ustaz, bahkan pendeta pun beliau menjalin kedekatan,” tuturnya.

Kang Uyan juga mengisahkan, bahkan seorang warga Kristiani sempat menghubunginya sambil menangis, mengaku kehilangan sosok Kang Emay yang dianggap sebagai sahabat.

Dalam pandangannya, almarhum layak disebut sebagai “Gus Dur-nya Karawang”, merujuk pada sosok Abdurrahman Wahid yang dikenal karena sikap inklusif dan kemampuannya merangkul semua golongan.

Tak hanya itu, almarhum juga dikenal sebagai pecinta musik, khususnya karya-karya Iwan Fals. Hampir seluruh lagu sang legenda mampu ia hafal, menjadi bagian dari warna kehidupan yang sederhana namun penuh makna.

Berita Lainnya  Dilantik di Rumah Sejarah Rengasdengklok, Maslani Siap Bawa PSIB Karawang Lebih Maju

Kedekatan emosional almarhum dengan banyak orang pun terasa begitu dalam. Kang Uyan mengaku tak kuasa menahan air mata saat mendengar kabar duka tersebut.

“Saya merasa kehilangan seorang kakak. Beliau mentor terbaik dalam perjalanan saya di NU. Beliau tidak pernah melihat orang dari latar belakang pribadi, tapi dari nilai kebersamaan dalam NU,” ujarnya.

Di akhir tausyiahnya, ia berharap almarhum mendapatkan syafaat dan kemuliaan di sisi Allah SWT, serta dikumpulkan bersama para ulama, termasuk Kiyai Haji Hasyim Asy’ari, atas kecintaannya yang mendalam terhadap Nahdlatul Ulama.

Tahlilan ini menjadi bukti bahwa kepergian Kang Emay Ahmad Maehi meninggalkan jejak yang begitu luas bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat lintas golongan yang pernah merasakan ketulusan dan kehangatan sosoknya. (Yusup)

Bagikan Artikel