Beranda Daerah “Hari Kemarahan Rakyat Karangligar”: Warga Segel Kantor Desa, Kades Menghilang

“Hari Kemarahan Rakyat Karangligar”: Warga Segel Kantor Desa, Kades Menghilang

KARAWANG, NarasiKita.ID — Desa Karangligar, Telukjambe Barat, menjadi sorotan publik setelah ratusan warganya turun ke jalan dan menyegel kantor desa sendiri. Aksi dramatis yang berlangsung pada Senin (21/04) itu menandai puncak dari kekecewaan warga terhadap kepemimpinan Kepala Desa Ersim, yang dianggap gagal menjalankan amanah.

Spanduk putih bertuliskan “Kantor Desa Disegel Rakyat” terbentang lebar di gerbang utama. Sementara orasi warga menggema tanpa henti, mengisi kekosongan kantor yang kini lebih mirip bangunan mati ketimbang pusat pemerintahan.

Menurut warga, masalah di Karangligar bukan sekadar keluhan kecil. Jalan berlubang dibiarkan menganga, sampah kiriman dari wilayah lain menumpuk tanpa solusi, dan banjir musiman terus mengepung rumah-rumah saat hujan datang. Namun yang paling membuat geram adalah transparansi anggaran yang dipertanyakan.

Berita Lainnya  Mitra & Yayasan Setujui Dapur MBG Tak Berizin, Risiko Sanksi Mengintai

“Warga tidak pernah tahu dana desa digunakan untuk apa. Kami seperti penonton di rumah sendiri,” kata Alvino, warga yang sejak pagi turut dalam aksi.

Tidak ada ruang dialog, tidak ada forum warga, tidak ada laporan. Warga menilai kepemimpinan Ersim ibarat kapal tanpa nahkoda—berjalan tanpa arah dan enggan mendengar.

“Kalau memang merasa benar, kenapa takut menemui rakyatnya?” sindir Narsam Kartawijaya, orator aksi. “Kami siap turun lagi. Tapi jangan salahkan kami kalau nanti jumlahnya lebih besar.”

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Ersim tidak muncul di hadapan massa. Ia disebut memilih bersembunyi di ruang kerjanya, bahkan ketika camat dan perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Karawang telah tiba untuk menengahi.

Berita Lainnya  Nestapa Warga Desa Lenggahsari Berjuang dalam Kepungan Banjir Saat Ramadan

Aksi damai ini mungkin baru permulaan. Tapi bagi warga Karangligar, hari itu adalah penanda: bahwa ketika suara rakyat diabaikan, maka kantor desa pun bisa menjadi simbol perlawanan. (Yusup)

Bagikan Artikel