Beranda Daerah Diduga Mark-Up Harga Makan Bergizi Gratis di Jayalaksana, Nilai Paket Tak Capai...

Diduga Mark-Up Harga Makan Bergizi Gratis di Jayalaksana, Nilai Paket Tak Capai Standar BGN

BEKASI, NarasiKita.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Jayalaksana, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, menuai sorotan tajam. Paket makanan yang didistribusikan ke sejumlah sekolah pada Senin (02/03/2026) diduga memiliki nilai riil di bawah standar harga yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).

Sesuai ketentuan, alokasi anggaran MBG ditetapkan sebesar Rp10.000 per porsi untuk siswa SD kelas 4 ke atas, SMP, dan SMA, serta Rp8.000 untuk siswa kelas 4 SD ke bawah. Namun, hasil perhitungan internal yang dilakukan salah satu guru SD di Jayalaksana menunjukkan nilai paket yang diterima siswa diperkirakan hanya berkisar Rp7.500.

Berita Lainnya  Audiensi Tegang, Warga Desa Pantai Sederhana Tekan Panitia BPD, Aspirasi Masuk Berita Acara

“Tadi sudah saya hitung, perkiraan di angka Rp7.500,” ujar guru tersebut kepada NarasiKita.ID, Senin (02/03/2026).

Guru tersebut merinci, harga roti di tingkat agen sekitar Rp1.000 dan di warung Rp2.000. Susu berkisar Rp2.000 di agen dan Rp2.500–Rp3.000 di eceran. Kurma kemasan kecil sekitar Rp1.000, sementara keripik tempe satu bal dihargai Rp80.000 di distributor dan sekitar Rp100.000 di warung, yang kemudian dibagi menjadi beberapa kemasan kecil.

Jika mengacu pada logika pembelian dalam jumlah besar, harga seharusnya lebih rendah dari harga eceran. Namun, pamflet rincian harga yang diduga dibuat oleh pihak penyedia makanan (dapur MBG) justru mencantumkan harga setara bahkan melebihi harga warung eceran.

Berita Lainnya  Tiang Listrik Roboh di Kecamatan Cibuaya, GMPI Soroti Dugaan Kelalaian PLN

Kondisi ini memicu dugaan adanya penggelembungan harga (mark-up) dalam penyusunan anggaran paket makanan.

Samsul Rizal, warga Desa Jayalaksana, menilai pencantuman harga eceran dalam pamflet tersebut tidak masuk akal.

“Masyarakat sekarang paham harga pasar. Penyedia tidak mungkin belanja dalam jumlah besar di warung kecil. Mereka pasti ambil dari distributor yang harganya jauh lebih murah. Kalau yang dicantumkan harga eceran, ini patut dipertanyakan,” tegasnya.

Ia menyebut transparansi menjadi kunci agar program yang seharusnya membantu pemenuhan gizi siswa tidak justru menimbulkan kecurigaan publik.

Program MBG sejatinya dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi pelajar sekaligus memastikan penggunaan anggaran berjalan efektif dan tepat sasaran. Namun jika nilai riil paket berada di bawah standar yang ditetapkan BGN, maka perlu ada klarifikasi terbuka dari pihak penyedia maupun instansi terkait.

Berita Lainnya  Kampus Memanas, Wartawan Melawan: DPD IWOI Karawang Tuntut Unsika Hargai Profesi Jurnalis

Hingga berita ini diterbitkan, pihak penyedia makanan (Dapur MBG) Jayalaksana belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan selisih harga tersebut.

NarasiKita.ID masih berupaya meminta konfirmasi dari pihak terkait guna memastikan akurasi data dan keberimbangan informasi. (MA)

Bagikan Artikel