Beranda Daerah Mengenang 100 Hari Kepergian Sang Tokoh Sukaindah Almarhum H. Lurah Kadir Karjaya

Mengenang 100 Hari Kepergian Sang Tokoh Sukaindah Almarhum H. Lurah Kadir Karjaya

BEKASI – NarasiKita.ID – Duka mendalam menyelimuti Desa Sukaindah, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi. Salah satu putra terbaik desa, H. Kadir Karjaya, telah berpulang ke rahmatullah pada hari Selasa, 3 Februari 2025, di kediamannya di Kampung Cabang Pulo Bambu RT 01 RW 01, Desa Sukaindah.

Almarhum wafat pada usia 75 tahun, setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit akibat penyakit prostat yang telah lama dideritanya dan sempat dioperasi pada tahun 2014. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di Kampung Puloglatik RT 06 RW 04, Desa Sukaindah.

Riwayat Kepemimpinan

Putra beliau, Dede Suryadi, mengisahkan bahwa H. Kadir Karjaya merupakan Kepala Desa definitif pertama Desa Sukaindah, pasca pemekaran dari Desa Sukamurni pada tahun 1982. Sebelumnya, jabatan kepala desa dijabat oleh PJS Sajam (1982–1984), kemudian dilanjutkan oleh Kadir Karjaya yang menjabat selama dua periode, yakni:

•Periode I: 1984–1992

•Periode II: 1992–2001

Total masa pengabdiannya selama 18 tahun sebagai Lurah meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Desa Sukaindah.

Masa Kecil

Kadir Karjaya lahir pada tahun 1950 di Kampung Puloglatik, saat itu masih menjadi bagian dari Desa Sukamurni. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, sekaligus satu-satunya anak laki-laki dari pasangan Sitang dan Dikah. Ayahnya berasal dari Cabang Pulo Bambu, dan ibunya dari Kampung Pule, Pulo Bambu Tua.

Berita Lainnya  Kang Emay Ajak Masyarakat Karawang Jadikan 2026 Tahun Persaudaraan dan Solidaritas Kemanusiaan

Di lingkungan keluarga, beliau akrab disapa “Moan”. Sejak kecil, Moan tinggal bersama kakek dan neneknya, uyut Denin, dan menjadi cucu laki-laki pertama yang sangat dibanggakan.

Dibesarkan dalam keluarga petani, Kadir tumbuh sebagai pribadi mandiri meskipun kadang dimanjakan. Ia menghabiskan masa kecilnya bermain bersama dua bibi dari pihak ibu, yaitu Nce Renan dan Rano.

Pendidikan dasar diselesaikan di SDN Cabang Pulo Bambu. Cita-citanya menjadi guru kandas karena keterbatasan akses pendidikan dan budaya orang tua pada masa itu yang enggan anaknya menempuh pendidikan jauh dari kampung.

Masa Remaja dan Pernikahan

Menginjak usia remaja, Kadir mulai membantu kakek-neneknya bertani dan beternak sapi. Melihat kegigihannya, ayahnya mulai mencarikan jodoh. Di usia 15 tahun, ia dijodohkan dengan Kartinah, putri dari H. Enda dan Ibu Ebo, pasangan pedagang sembako dan pengepul gabah di Cabang Pulo Bambu.

Pernikahan berlangsung di usia muda. Keduanya masih tinggal di rumah orang tua masing-masing setelah menikah karena masih belum mengerti betul arti berumah tangga. Seiring waktu, mereka mulai memahami peran masing-masing dan akhirnya tinggal bersama.

Berita Lainnya  Atap Rumah Warga Desa Kampungsawah Ambruk, Bantuan Melalui Aplikasi Si Imah Tak Kunjung Turun

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai lima orang anak:

•Dede Suryadi (1968)

•Acan Suryanto

•Neneng Badriah

•Bustamil Aripin (1984)

•Tety Hendrayanti (1990)

Perjalanan Karier dan Pengabdian

Setelah menikah, Kadir memulai hidup baru di rumah kecil milik mertuanya. Dengan bekal ilmu bertani dan beternak dari kakek-neneknya, ia bekerja keras menafkahi keluarganya. Kemudian, mengikuti jejak keluarga mertuanya, ia membuka usaha warung sembako bersama istri.

Karena pergaulannya yang luas dan jiwa kepemimpinan yang menonjol, pada tahun 1981 Kadir dipercaya menjadi Kepala Dusun di Desa Sukamurni. Setahun kemudian, ia mencalonkan diri dalam Pilkades namun belum berhasil.

Pada tahun 1984, saat terjadi pemekaran desa, Desa Sukaindah menggelar Pilkades pertama. Kadir kembali mencalonkan diri dan kali ini terpilih sebagai Kepala Desa Sukaindah yang pertama secara definitif.

Beliau kembali terpilih untuk periode kedua. Namun pada masa jabatan ini, cobaan berat datang: istri tercintanya, Kartinah, meninggal dunia pada tahun 1989 dalam usia 45 tahun. Kehilangan ini berdampak pada performa kepemimpinannya karena harus membagi waktu antara mengurus keluarga dan mengabdi kepada masyarakat.

Berita Lainnya  Kuasa Hukum Nilai Penetapan Tersangka Kasus Pengrusakan di Karawang Terlalu Tergesa-gesa

Masa jabatannya berakhir pada tahun 2001.

Almarhum di Mata Keluarga

Putri bungsunya, Tety Hendrayanti, mengenang sang ayah sebagai sosok penyayang dan sangat dekat dengan anak-anaknya.

“Dan ini terbukti, atas segala perjuangan dan kasih sayangnya, kami bisa menjadi seperti sekarang. Satu hal yang kami sesali, kami belum sempat membahagiakan dan membalas semua kebaikannya. Ayah telah pergi terlalu cepat. Sekarang, hanya doa yang bisa kami kirimkan. Semoga doa-doa kami menjadi penyejuk beliau di alam sana.” – ucap Tety sambil berlinang air mata.

“Selamat jalan Ayah. Kami, seluruh anak dan cucumu, bersaksi bahwa Ayah adalah orang baik. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya dan menempatkannya di surga yang terindah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.”

Kepergian H. Kadir Karjaya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, masyarakat, dan sejarah Desa Sukaindah. Sosoknya sebagai pemimpin, ayah, suami, dan tetangga yang baik akan selalu dikenang.

Terima kasih kepada keluarga besar Uyut Sitang dan keluarga besar H. Kimung atas segala dukungan dan kenangan indah yang pernah terukir bersama almarhum. (MA)

Bagikan Artikel