Beranda Daerah Petani Cibuaya–Pedes Terancam Rugi, Pemuda Tani Karawang Minta Aksi Cepat Bulog dan...

Petani Cibuaya–Pedes Terancam Rugi, Pemuda Tani Karawang Minta Aksi Cepat Bulog dan Dinas Pertanian

KARAWANG, NarasiKita.ID – Pengurus Cabang (DPC) Pemuda Tani Kabupaten Karawang angkat bicara terkait musibah banjir yang merendam lahan persawahan siap panen di wilayah Kecamatan Cibuaya dan Kecamatan Pedes.

Mulyana, S.P., salah satu pengurus DPC Pemuda Tani Karawang, mendesak Perum Bulog dan Dinas Pertanian Kabupaten Karawang untuk segera turun tangan melakukan langkah konkret guna menyelamatkan nasib para petani terdampak.

“Hujan deras dalam beberapa hari terakhir membuat ribuan hektar sawah terendam. Kondisinya sangat darurat. Gabah yang seharusnya dipanen dengan kualitas baik kini terendam air. Jika tidak segera ditangani, petani akan mengalami kerugian total,” ujar Mulyana saat memberikan keterangan, Jumat (16/1/2026).

Berita Lainnya  Polres Metro Bekasi Gerebek Kampung Kavling, Empat Pelaku Obat Keras Diciduk Saat Operasi Senyap

Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh tinggal diam menghadapi situasi ini. Dibutuhkan kebijakan khusus untuk menyerap hasil panen agar harga gabah di tingkat petani tidak anjlok.

Mulyana mendesak Perum Bulog untuk segera membeli gabah petani dengan skema penanganan darurat, meskipun kualitasnya sedikit menurun dari standar normal. Sementara itu, Dinas Pertanian diminta segera melakukan pendataan valid atas luas lahan terdampak serta menyediakan sarana pengeringan (dryer) atau membantu distribusi gabah agar segera dapat diolah.

“Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Bulog harus hadir di tengah penderitaan petani. Jangan biarkan petani berjuang sendirian melawan tengkulak yang memanfaatkan situasi dengan menekan harga serendah-rendahnya,” tegasnya.

Berita Lainnya  Rumah Warga Miskin di Batujaya Roboh, Program RUTILAHU Karawang Gagal Menyentuh Akar Masalah

Wilayah Cibuaya dan Pedes merupakan salah satu lumbung padi utama di Kabupaten Karawang. Kegagalan penyerapan gabah di dua wilayah ini dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas ekonomi petani lokal serta mengancam target produksi beras daerah. (Yusup)

Bagikan Artikel