Duduk Bareng Warga Pedes, Pipik Taufik Ismail Serap Aspirasi Soal Ambulans hingga Air Bersih

Duduk Bareng Warga Pedes, Pipik Taufik Ismail Serap Aspirasi Soal Ambulans hingga Air Bersih

KARAWANG, NarasiKita.ID – Suasana hangat terasa di Aula Kantor Desa Laban Jaya, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Minggu (19/04/2026). Warga dari berbagai kalangan berkumpul, duduk bersama, dan menyampaikan langsung keluhan serta harapan mereka kepada anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Pipik Taufik Ismail.

Dalam kegiatan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan Tahun Anggaran 2026 ini, Pipik tidak hanya datang untuk menyampaikan program, tetapi juga membuka ruang dialog. Warga pun memanfaatkan momen tersebut untuk berbicara apa adanya tentang kebutuhan yang masih belum terpenuhi hingga persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.

Kepala Desa Laban Jaya, Munjid Faisal, menyebut kehadiran wakil rakyat seperti ini menjadi harapan bagi masyarakat desa.

Berita Lainnya  Didesak Mahasiswa, Pemkab Bekasi Dinilai Defensif dan Minim Respons

“Kami berharap kehadiran Kang Pipik benar-benar membawa perubahan. Masyarakat juga kami dorong untuk berani menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka,” ujarnya.

Satu per satu aspirasi mengemuka. Mulai dari kebutuhan ambulans desa yang belum merata di Kecamatan Pedes, hingga persoalan air bersih yang masih menjadi kendala bagi para petani.

Tak sedikit warga yang juga menanyakan perkembangan layanan Posyandu. Kini, Posyandu tidak lagi hanya melayani ibu hamil dan balita, tetapi sudah berkembang melalui Integrasi Layanan Primer (ILP), mencakup sanitasi hingga air bersih. Namun, perlu dukungan yang lebih nyata agar program tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya.

Berita Lainnya  Dugaan Skandal Transparansi di Desa Sukamaju, Kades Terancam Jerat Pidana UU KIP dan UU Pers

Menanggapi hal itu, Pipik menegaskan bahwa anggaran pemerintah harus kembali pada tujuan utamanya: kesejahteraan masyarakat.

“Program itu ada untuk masyarakat. Jadi harus tepat sasaran dan bisa dirasakan langsung. Tapi masyarakat juga harus tahu dan ikut mengawasi, supaya tidak ada yang melenceng,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya keterbukaan informasi, agar warga tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga bagian dari pengawasan.

Pertemuan itu pun menjadi lebih dari sekadar agenda resmi. Ia berubah menjadi ruang curhat warga, tempat harapan disampaikan, sekaligus pengingat bahwa pembangunan seharusnya dimulai dari apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. (Sup)

Bagikan Artikel
Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *