BEKASI, NarasiKita.ID – Ribuan petani di Desa Karangsegar, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, menghadapi ancaman serius gagal tanam. Sekitar 3.000 hektare areal persawahan yang membentang dari Blok (BKG) 26 hingga BKG 39 dilanda kekeringan akibat minimnya pasokan air irigasi.
Kondisi tersebut membuat para petani hampir empat bulan tidak dapat memulai musim tanam. Jika tidak segera ditangani, keterlambatan pasokan air dikhawatirkan semakin memperbesar kerugian dan berdampak terhadap produktivitas pertanian di wilayah Kabupaten Bekasi.
Salah seorang petani mengaku kecewa karena air yang selama ini dinantikan belum juga mengalir ke lahan mereka.
“Petani Desa Karangsegar sampai saat ini masih kekurangan air. Dari BKG 26 sampai BKG 39, hamparan sawah kurang lebih 3.000 hektare belum mendapatkan air. Kami memohon kepada pemerintah terkait agar segera mengambil tindakan,” ungkapnya, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Para petani khawatir ketika musim hujan tiba, kondisi justru berbalik menjadi ancaman banjir, sementara saat ini mereka bahkan belum dapat memulai masa tanam.
“Jangan sampai nanti saat seharusnya kami panen, justru sawah kebanjiran karena hujan. Sekarang sudah hampir empat bulan kami belum bisa tanam. Kekeringan ini jangan dianggap main-main. Kami berharap ada solusi agar kami tidak mengalami gagal tanam dan mengalami kerugian,” tegasnya.
Para petani mendesak pemerintah dan instansi terkait segera turun ke lapangan untuk memastikan penyebab terhambatnya distribusi air irigasi sekaligus mengambil langkah konkret agar pasokan air dapat kembali dialirkan ke areal persawahan.
Bagi petani, persoalan air bukan sekadar masalah teknis irigasi. Terhentinya musim tanam berarti tertundanya pendapatan, meningkatnya biaya hidup, serta semakin besarnya risiko kerugian bagi keluarga yang menggantungkan kehidupan dari lahan pertanian.
Mereka berharap pemerintah tidak menunggu hingga kondisi semakin parah. Sebab, setiap hari keterlambatan berarti semakin dekat dengan ancaman gagal tanam.
Kini, ribuan petani Karangsegar hanya berharap satu hal: air segera mengalir dan sawah kembali bisa ditanami sebelum musim tanam benar-benar terlewat. (MA)


























