KARAWANG, NarasiKita.ID – Suara mesin ekskavator meraung di tepi Kali Apoor, memecah keheningan pagi di Desa Medangasem dan Desa Kampungsawah, Kecamatan Jayakerta. Di bawah langit yang mendung, lumpur dan rumput liar disibak, menggantikan pemandangan sungai yang selama ini tertutup endapan dan sampah. Di tepian, warga berdiri memandangi alat berat dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara lega, harap, dan khawatir.
Bagi mereka, kegiatan normalisasi saluran Kali Apoor bukan sekadar proyek fisik. Ini adalah simbol harapan setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan ancaman banjir yang datang setiap kali hujan deras mengguyur wilayah utara Karawang.
“Kalau hujan lebih dari dua jam, air cepat sekali naik. Rumah-rumah di pinggir kali pasti kebanjiran,” tutur Udin (52), warga Medangasem, yang sudah dua kali harus mengungsi karena air meluap hingga ke dalam rumahnya. “Mudah-mudahan kali ini pemerintah benar-benar serius,” tambahnya.
Langkah serius itu tampaknya mulai nyata. Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menurunkan alat berat untuk mengeruk dasar kali dan memperlebar aliran air. Kepala Dinas PUPR Rusman Kusnadi hadir langsung di lokasi bersama Kabid Sumber Daya Air (SDA) Tri Winarno, memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana teknis.
“Kali Apoor ini menjadi salah satu titik kritis yang selalu jadi langganan banjir. Kami lakukan normalisasi agar aliran air lebih lancar,” jelas Rusman.
Tak hanya PUPR, kegiatan itu juga melibatkan lintas instansi dan aparat daerah. Hadir di lokasi Camat Jayakerta Asep Sudrajat, Kepala Desa Medangasem Alex Abdul Hanan, Kepala Desa Kampungsawah Dede Sunarya, perwakilan BBWS, PJT II Rengasdengklok, Satpol PP, serta unsur TNI dan Polri. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa penanganan banjir bukan sekadar tanggung jawab satu dinas, tapi kerja bersama seluruh elemen.
Kehadiran Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, di tengah-tengah kegiatan itu menambah semangat warga dan petugas. Dengan rompi lapangan dan sepatu boots, Bupati meninjau pengerjaan dari dekat, berbincang dengan pekerja, dan mendengar langsung keluhan masyarakat. Di sampingnya, turut mendampingi Kapolres Karawang dan Dandim 0604 Karawang yang juga memberi dukungan pada upaya pengendalian banjir di wilayah Jayakerta.

“Kami tidak ingin masyarakat terus khawatir setiap hujan datang. Ini bentuk tanggung jawab pemerintah untuk hadir, bekerja, dan memberi solusi nyata,” ujarnya.
“Kalau alirannya sudah lancar, tapi sampah masih dibuang ke kali, masalah akan berulang. Jadi butuh kesadaran bersama,” tambahnya.
Sebelum kegiatan lapangan dimulai, suasana kebersamaan lebih dulu terbangun dalam apel pagi di halaman Pondok Pesantren Nurussalam, yang dipimpin Kapolsek Rengasdengklok. Dalam amanatnya, Kapolsek menekankan pentingnya sinergi aparat dan masyarakat dalam menjaga keamanan serta mendukung program pembangunan, termasuk kegiatan penanganan banjir yang sedang berjalan.
Bagi warga Desa Medangasem dan Desa Kampungsawah, banjir bukan sekadar genangan air ia adalah ancaman terhadap penghidupan. Banyak lahan pertanian gagal panen, jalan desa rusak, dan aktivitas ekonomi lumpuh setiap musim hujan tiba. Karena itu, normalisasi kali ini membawa harapan baru.
“Kalau air sudah lancar, kami bisa tenang. Anak-anak bisa sekolah tanpa khawatir, sawah bisa digarap lagi,” kata Bu Enah (40), warga Medangasem yang sehari-hari berjualan di pinggir jalan desa.
Kegiatan normalisasi di Kali Apoor diperkirakan berlangsung beberapa minggu ke depan, menyesuaikan panjang aliran dan tingkat sedimentasi.
Menjelang siang, ketika Bupati meninggalkan lokasi, warga masih berdiri di tepian kali, menyaksikan alat berat terus bekerja. Di wajah mereka, tampak secercah keyakinan bahwa kali ini, air tak lagi menjadi musuh melainkan sahabat yang kembali menghidupi tanah mereka. (Yusup)


























