Beranda Daerah Air Mata di Wisuda Unsika, Keluarga Wakili Almarhum Emay Ahmad Maehi Raih...

Air Mata di Wisuda Unsika, Keluarga Wakili Almarhum Emay Ahmad Maehi Raih Gelar Magister

KARAWANG, NarasiKita.ID – Suasana bahagia wisuda pascasarjana di Aula Syekh Quro Universitas Singaperbangsa Karawang, Selasa (12/5/2026), mendadak berubah haru ketika nama almarhum Emay Ahmad Maehi S.Ag., S.H., M.Ag., dipanggil sebagai salah satu wisudawan.

Di tengah tepuk tangan para tamu undangan dan wisudawan, dua perempuan berjalan perlahan menuju panggung dengan mata berkaca-kaca. Mereka adalah Reni Ernawati dan Dr. Siti Hamimah, S.H., M.H., istri dan adik almarhum, yang hadir mewakili Emay menerima gelar Magister Pendidikan Agama Islam (PAI).

Momen itu membuat suasana aula seketika hening. Tangis keluarga pecah saat ijazah dan penghargaan akademik diserahkan. Beberapa tamu undangan bahkan tampak ikut menyeka air mata menyaksikan perjuangan yang akhirnya tuntas, meski sosok yang memperjuangkannya telah tiada.

Berita Lainnya  Pemkab Karawang Evaluasi Kenaikan NJOP Tambak, Siapkan Relaksasi dan Pemutihan PBB-P2

“Rasanya campur aduk. Bahagia karena cita-cita beliau tercapai, tapi sedih karena seharusnya suami saya yang berdiri di sini,” ujar Reni dengan suara bergetar.

Keluarga Almarhum Emay Ahmad Maehi (Dok/Ist)

Almarhum diketahui telah menyelesaikan seluruh proses pendidikan magister dan mengikuti yudisium pada Januari 2026. Namun, takdir berkata lain. Sehari setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya 22 Maret 2026, Emay meninggal dunia sebelum sempat mengikuti prosesi wisuda yang telah lama dinantikannya.

Bagi keluarga, wisuda tersebut bukan hanya seremoni akademik. Momen itu menjadi simbol perjuangan hidup almarhum yang tak pernah berhenti mencintai pendidikan hingga akhir hayatnya.

Berita Lainnya  Dua Atlet Karawang Binaan Dewasena Management Bersinar di Malaysia, Dicky Menang KO Ronde Pertama

Semasa hidup, Emay dikenal sebagai sosok yang sederhana, tekun, dan selalu menanamkan pentingnya pendidikan kepada keluarga maupun orang-orang di sekitarnya.

“Beliau selalu bilang jangan sampai anak-anak berhenti sekolah. Pendidikan itu penting dan menuntut ilmu wajib sampai akhir hayat,” tutur Reni sambil menahan tangis.

Selain aktif di dunia pendidikan, almarhum juga dikenal sebagai tokoh publik di Karawang. Ia pernah menjabat sebagai Ketua KPU Karawang dan aktif di berbagai organisasi Islam, termasuk Gerakan Pemuda Ansor.

Sang adik, Dr. Siti Hamimah, mengungkapkan bahwa tesis almarhum yang mengangkat tema moderasi beragama bahkan sempat mendapat penghargaan dari Kementerian Agama Kabupaten Karawang.

“Tesis beliau tentang moderasi beragama mendapat penghargaan dari Kemenag Karawang. Kami bangga karena pemikiran beliau memang ingin membawa nilai toleransi dan pendidikan yang baik di masyarakat,” ungkapnya.

Berita Lainnya  Pilkades Serentak 2026 di Bekasi Siap Digelar, 154 Desa Gunakan Sistem E-Voting

Kini, gelar magister tersebut menjadi kenangan terakhir bagi keluarga. Sebuah tanda bahwa perjuangan dan mimpi almarhum telah selesai ditunaikan, meski dirinya tak sempat menerima langsung hasil kerja kerasnya sendiri.

Namun bagi keluarga, semangat hidup dan pesan-pesan almarhum tentang pendidikan akan tetap hidup dan diwariskan kepada anak-anak serta generasi berikutnya.

“Walaupun beliau sudah tidak ada, semangat dan pesan beliau tentang pendidikan akan terus hidup di keluarga kami,” tutup sang adik dengan mata berkaca-kaca. (Sup)

Bagikan Artikel